Kisah Perjalanan Anggota Pencerah Nusantara di Bumi Flobamorata

 

Mega Faridatun Nisak – Anggota Tim Pencerah Nusantara

 

Perjalanan Mega Faridatun Nisak, Anggota Tim Pencerah Nusantara. Jakarta masih lengang ketika kami sibuk mengemas barang ke dalam koper-koper ukuran jumbo. Pagi itu, 12 September 2014 di  Taman Mini Indonesia, kami bersiap menuju tujuan masin-masing ke  pelosok  nusantara.

Saya, Mega Faridatun Nisak, S.Keb.,Bd, lulusan S1 Pendidikan Bidan Universitas Airlangga Surabaya masuk menjadi anggota Pencerah Nusantara angkatan ke-3 bersama 34 rekan lain dari berbagai daerah.

Selama 1,5 bulan kami lewati masa-masa susah dan senang bersama dalam program pelatihan Pencerah Nusantara di RSCM, Universitas Indonesia dan Akademi Militer Magelang serta mendapatkan berbagai materi pelatihan, diantaranya kompetensi medis, kepemimpinan dan nasionalisme, personal wellbeing, teamwork, teambuilding, manajemen Puskesmas, kompetensi survey, pengolahan data dan program development, pemberdayaan komunitas dan ketahanan fisik.

Sesekali saya mengusap pipi yang basah karena lelehan air mata yang jatuh tak tertahankan.  Inilah awal perjalanan kami dalam memercikkan semangat perubahan yang diharapkan dapat menggerakkan bangsa ini untuk bergerak bersama menuju Indonesia sejahtera.

Pencerah Nusantara merupakan gerakan yang digagas oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals. Program ini mengupayakan optimalisasi layanan kesehatan primer di Indonesia yang bersifat lintas sektoral dan menempatkan tim tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter umum, perawat, bidan dan pemerhati kesehatan/ relawan lokal yang bersedia ditempatkan disuatu daerah selama 1 tahun untuk bergabung bersama menciptakan suatu perubahan besar dan menjadi bagian dari sejarah menuju Indonesia yang lebih sejahtera.

Daerah penempatan pencerah Nusantara sendiri berada di tujuh  lokasi yaitu: Kabupaten Berau, Kabupaten Ende, Kabupaten Karawang, kabupaten Pasuruan, Kabupaten Sigi, Kabupaten Toli-Toli dan kabupaten Kepulauan Mentawai. Tujuh lokasi ini mewakili karakteristik daerah Indonesia yang masih mengalami berbagai masalah kesehatan yang berbeda-beda.

Bulan Pertama Yang Berat Bagi Tim Pencerah Nusantara

 

Bersama rekan sejawat

 

Sebuah pertanyaan besar terngiang dalam hati. “Apakah yang akan saya usahakan akan membuat perubahan yang menentukan dalam jangka panjang?”

Saya benar-benar ingin merasa punya makna dalam satu tahun masa bakti, bahwa entah bagaimana akan ada perubahan ke arah lebih baik karena saya dan tim pencerah Nusnatara angkatan 3 ada dan hadir di Kecamatan Pulau Ende Kabupaten Ende Flores NTT.

Satu bulan pertama merupakan waktu yang cukup berat bagi tim Pencerah Nusantara, selain karena harus beradaptasi dengan budaya dan karakteristis masyarakat yang sangat berbeda dengan kami, kami juga harus melakukan perencanaan secara matang untuk menjalankan “sustainability dan exit strategy” program Pencerah Nusantara yang telah dijalankan sejak angkatan 1 dan 2.

Tantangan yang kami hadapi ketika bertugas di Kecamatan Pulau Ende dapat dibagi menjadi tiga. Pertama dari segi kapasitas berupa kurangnya kompetensi dan etos kerja tenaga medis di Puskesmas, standar pelayanan yang rendah serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam pembangunan kesehatan.

Kedua dari segi kelembagaan dimana kemitraan yang kurang sinergis antara pelaku pelayanan kesehatan dan ketiga dari segi akses seperti fasilitas dan peralatan kesehatan yang kurang memadai dan belum merata, jarak yang cukup jauh dari fasilitas pelayanan rujukan di Kabupaten (3 jam melewati Laut Sawu).

Satu tahun saya dan 4 anggota tim lainnya lalui dengan menjadi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan di dalam gedung maupun di luar gedung Puskesmas, 9 program pokok berhasil kami inisiasi untuk dijalankan bersama-sama dengan Puskesmas Kecamatan Pulau Ende, stakeholder lokal dan masyarakat Pulau Ende.

9 program tersebut adalah:  Posyandu Model, Refreshing Kader Posyandu, Posbindu, Kelas Ibu Hamil, Revitalisasi Puskesmas, Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Media Promosi Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) dan Penanggulangan Masalah Gizi Balita dan Ibu Hamil KEK.

Kami semua mencoba menjadikan masyarakat Pulau Ende mandiri dalam bidang kesehatan, bagaimana prinsip tentang pelayanan yang seharusnya didapatkan masyarakat benar-benar dapat dijalankan, bagaimana masyarakat dapat mulai memahami potensi yang ada dalam diri dan lingkungan mereka sendiri sebagai modal kemajuan kesehatan dan kesejahteraan  mereka bukan mengandalkan bantuan pusat.

Pada saat yang sama, saya menyadari bahwa upaya perbaikan dalam bidang kesehatan tentunya juga harus dilandasi oleh suatu kebiasaan melakukan upaya kesehatan oleh masyarakat itu sendiri. Kebiasaan adalah faktor yang kuat dalam hidup kita, keunggulan dalam bidang kesehatan bukanlah suatu perbuatan melainkan hasil dari kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang menempatkan kesehatan sebagai bagian dari kehidupan mereka. Akan tetapi, saya juga menyadari bahwa kebiasaan ini tidak dapat diciptakan dengan segera, diperlukan suatu proses dan komitmen yang luar biasa untuk itu.

“Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan, tuailah kebiasaan; taburlah kebiasaan, tuailah karakter; taburlah karakter, tuailah nasib,” begitulah bunyi pepatah yang kiranya kami semua harus resapi sebagai motivasi perjalanan langkah kami di bumi Flobamorata- NTT.

Kami berusaha menciptakan gagasan pembangunan kesehatan masyarakat, menjalankannya bersama-sama masyarakat hingga akhirnya harapan kami dapat mengubah kondisi kesehatan masyarakat menjadi lebih baik.

 

 

Dikutip dari:

Kisah Perjalanan Anggota Pencerah Nusantara di Bumi Flobamorata